RESOLUSI HIJRAH DI AWAL HIJRIYYAH

“Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang menebasmu. Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan.” Imam Syafi’i, Rahimullah


Waktu adalah karunia yang amat berharga. Ia adalah nafas yang tidaklah mungkin akan dapat kembali berulang. Barangsiapa yang gagal memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, maka sejatinya ia telah menyia-nyiakan hal paling berharga dalam hidupnya. Namun sebagai manusia yang dipenuhi berbagai hasrat demi mengejar berupa-rupa kepuasan, kita seringkali abai, tidak pandai dalam menggunakan setiap detik demi detik waktu yang tanpa terasa begitu saja berlalu. Menghabiskan anugerah usia dengan hal yang sia-sia.





Momentum tahun baru, bagi seorang muslim, bukan hanya sekedar momen pergantian dari tahun sebelumnya ke tahun berikutnya. Terdapat makna mendalam di dalamnya, yang seharusnya mencerminkan betapa pentingnya berpandai-pandai menjaga waktu yang ada. Tahun baru adalah salah satu momentum terbaik untuk jujur menilai diri sendiri, bermuhasabah, berintrospeksi dan mengevaluasi diri, melihat kembali ke belakang bagaimana ternyata kita menghabiskan karunia waktu yang Allah berikan.



Sudah maksimalkah amal-amal baik kita? Atau justru hal-hal mudhrarat yang lebih banyak kita laksanakan? Seberapa kuatkah usaha kita untuk meraih cita-cita? Sudah benarkah niat kita? Kesalahan-kesalahan apa saja yang telah membuat kita harus mengecap kegagalan? Sudahkah kita minta maaf kepada orang-orang yang sudah kita perlakukan secara kurang baik? Sudahkah kita ikhlas memaafkan mereka yang mungkin secara tidak sengaja berbuat salah kepada kita? Pertanyaan besarnya adalah, apakah kita harus begini-begini saja di setiap pergantian tahun ke tahun berikutnya? Semoga jawaban sahabat adalah tidaklah demikian. Semua hal yang berkaitan dengan pergantian itu memiliki konsekuensi melangkah untuk sebuah perubahan. Perubahan ke arah kebaikan yang lebih baik, tentu saja.



Sebagaimana makna mendalam dari proses hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah yang memberi pesan kepada kita agar kita pun juga berhijrah. Hijrah dari hal-hal yang tidak baik-baik menuju yang baik-baik, atau dari yang baik ke yang lebih baik lagi. Harus ada revolusi diri dan resolusi yang menjadi motivasi agar diri kita dapat menjadi pribadi yang jauh lebih baik di tahun-tahun berikutnya. Resolusi-resolusi yang menuntun kita menjadi sebaik-baik manusia yang pandai dalam menjaga waktunya. Mahir memanfaatkan pedangnya. Resolusi yang membawa kita menjadi seorang muslim yang berkualitas.


Dalam upaya menumbuhkan semangat menjadi muslim berkualitas yang pandai menjaga waktunya, SIT Adzkia Sukabumi telah memulainya dengan penuh bara semangat perubahan. Melalui resolusi-resolusi terbaik yang telah ananda shalih shalihah torehkan, kami berupaya melangitkan harapan demi harapan, agar kami tidak sampai mengulang kesalahan dari masa yang telah lalu. Agar kami memiliki pijakan untuk menyongsong karunia paling berharga dari Sang Pencipta Alam dengan sebaik-baik perbuatan. Agar kelak ketika tiba saatnya hari perhitungan, kami terhindar dari golongan-golongan yang akhirnya teramat menyesal karena semasa hidup hanya menyia-nyiakan setiap kesempatan dan nafas yang Allah titipkan.

Maka tidaklah ada alasan untuk kemudian hanya bermalas-malasan. Karena deretan panjang harapan telah usai kita gantungkan.


Bgaimana denganmu? Apa resolusi tahun baru Islam versimu? Apapun resolusimu, selalu semangat dan optimis bergerak yaaa… Jangan sampai resolusi, target dan mimpi-mimpimu hanya sekedar sebagai halusinasi atau imajinasi yang tidak pernah berujung kenyataan.

-Written by U.K-



3 views

Recent Posts

See All